News Update :
Home » » Hongkong, Surga atau Neraka Bagi TKW?

Hongkong, Surga atau Neraka Bagi TKW?

Ingin tahu bagaimana kehidupan para TKW kita di Hongkong ? Pergilah ke belantara beton itu pada akhir pekan. Di beberapa pusat belanja dan taman Vicoria, kita dapat saksikan ribuan perempuan Indonesia ada di sana, tampil dengan macam ragam busana. Ada yang berbusana muslimah tetapi tidak kurang uang tampil trendi. Menjelang musim dingin di awal Desember lalu, banyak yang masih menggunakan celana pendek, jaket dan topi gaya rapper. Mereka juga dengan bebas naik turun kereta bawah tanah yang menghubungkan berbagai pusat belanja di Hongkong.

Selain di pusat belanja dan keramaian, keberadaan para TKW - yang sebagian lebih suka disebut BMI yaitu singkatan dari Buruh Migran Indonesian – dapat dilihat juga di sekitar gedung Konsulat Jenderal Indonesia di Hongkong. Rata rata seribu TKW setiap minggu sore ngantri mengambil paspor mereka yang baru diperpanjang. Jangan kaget, sebab banyak di antara mereka yang bekerja di Hongkong lebih dari lima tahun. Mereka kerasan bekerja di sana lantaran mendapat majikan yang baik serta sudah punya teman karib. Sejumlah TKW bahkan dapat berprestasi menulis cerita pendek dan membukukannya bahkan punya blog sendiri. Untuk yang seperti ini dapatlah disebut nama nama seperti Ratu Bilqis, Susie Utomo, Nadia Cahyani dan Mega Vristian. Orang orang ini selain aktif menulis bahkan aktif membantu sesama TKW yang menderita. Boleh jadi, banyak di antara mereka merasa Hongkong adalah kampung halaman mereka yang kedua. Hongkong adalah surga bagi sebagian di antara mereka. Lantas adakah yang merasakan Hongkong ibarat neraka ?

Tidak semua TKW di Hongkong merasa nyaman dengan pekerjaan mereka. Jika ingin tahu bagaimana penderitaan yang dihadapi sebagian dari 14 ribu perempuan pekerja itu, pergilah ke sejumlah shelter atau penampungan TKW bermasalah. Di salah satu shelter yang dikelola Dompet Dhuafa, tinggal puluhan perempuan yang merasakan kesedihan dan penderitaan. Satu di antaranya adalah Nur. Gadis asal Klirong Kebumen Jawa Tengah itu tak dapat melupakan bagaimana derita yang ia rasakan. Menjelang satu tahun bekerja bersama majikan, perampuan tertua yang membantu orang tuanya menanggung beban biaya adik adiknya itu, sempat merasakan kehidupan bak neraka. Majikan laki laki yang pengangguran dan selalu tinggal dirumah sangat ringan tangan. Tamparan dan pukulan sangat gampang ia terima hanya karena kesalahan kecil yang dilakukan. Suatu kali ia pingsan dan harus masuk rumah sakit. Telinganya berdarah darah, badannya kurus kering dengan luka luka di kaki dan tangannya. 

Untunglah, ia akhirnya sembuh dan keluar dari rumah sakit. Iapun menuntut majikannya dan sempat maju ke pengadilan. Tetapi ia dikalahkan. Pengadilan memutuskan majikan tidak bersalah. Di dampingi Dompet Duafa dan Christian Union ia masih berusaha menuntut majikan dan meminta ganti rugi moral dan material akibat siksaan yang dialaminya. Secara fisik Nur sudah sembuh, tetapi batin, sejauh saya masih belum. Ia senantiasa terisak menuturkan deritanya. Setidaknya itulah yang saya lihat saat mengunjungi shelter tempat ia bernaung. Selain Nur, puluhan TKW Hongkong terancam keberadaannya lantaran kasus pemutusan hubungan kerja sepihak ( interminate ) dari majikan. Muji dari Cilacap misalnya, baru dua bulan bekerja lantas diberhentikan. Ia diberi pesangon satu bulan sebagaimana peraturan yang berlaku. 

Tetapi urusan belum selesai. Paspor dipegang oleh agen yang membawanya ke Hongkong. Agen meminta uang. Ia dianggap berhutang. Sebagaimana diketahui, selama delapan bulan pertama gaji TKW di Hongkong selalu dipotong 3000 dolar hongkong setiap bulannya. Potongan itu diambil agen sebagai uang kompensasi. Setiap bulan, jika beruntung, majikan yang baik akan membayarkan sisa gaji yang 500 dolar. Jadi masa kritis adalah delapan bulan pertama masa kerja. Muji bukanlah satu satunya. Masih banyak yang lainnya…….

Karena itu, selain nasib baik mendapatkan majikan yang baik hati, kesiapan mental dan ketrampilan adalah modal utama bagi para TKW di Hongkong. Masa masa itulah yang bakal menentukan apakah Hongkong dapat menjadi surga atau sebaliknya menjelma menjadi neraka……
Share this article :
 
Design Template by LPK KORINDO | Support by creating website | Powered by Blogger